Kembali ke Galeri Cerita SD Muh 4 Batu

Menyulam Kelas Kreatif menjadi Rumah Belajar Anak

17 May 2026 Dilihat: 724 kali
Menyulam Kelas Kreatif menjadi Rumah Belajar Anak
Menyulam Kelas Kreatif menjadi Rumah Belajar Anak Udara sejuk Kota Batu menyapa derap langkah kecil puluhan siswa saya menuju ruang kelas mereka. Namun, berbeda dari biasanya, hari itu mata mereka menyala lebih terang. Bukan hanya karena semangat belajar, melainkan karena mereka akan memasuki ruang yang benar-benar baru—ruang yang lahir dari mimpi, diskusi, dan kerja nyata. Itulah sekilas cerita tentang Sekolah Dasar Muhammadiyah 4 Batu, sebuah lembaga pendidikan yang berani mendobrak tradisi ruang kelas kaku dan menggantinya dengan rumah belajar hasil kolaborasi hangat antara guru, orang tua, dan siswa. Berawal dari kegelisahan para guru di SD Muhammadiyah 4 Batu yang melihat bahwa ruang kelas selama ini hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, namun kurang menjadi ruang yang merangsang imajinasi dan rasa kepemilikan, hal ini juga berpengaruh pada tanggung jawab siswa untuk menjaga kebersihan dan kerapian di dalam kelas. Maka lahirlah program Kelas Kreatif. Program ini tidak sekadar mengecat ulang tembok atau menempel poster pendidikan. Lebih dari itu, Kelas Kreatif adalah gerakan partisipatif di mana orang tua dan guru duduk bersama menggali ide, gagasan dan apa yang benar-benar dibutuhkan siswa untuk merangsang imajinasi yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Pendidikan berkualitas tidak dapat diwujudkan hanya melalui peran sekolah semata, tetapi membutuhkan kolaborasi erat dengan orang tua (Arika,2026). Sinergi yang kuat antara orang tua dan sekolah menjadi kunci keberhasilan dalam Pendidikan. Memberikan kenyamanan belajar dan bentuk ruang yang hangat dengan menciptakan suasana belajar yang mereka selalu rindukan. Guru bertindak sebagai inisiator dan jembatan literasi, sementara orang tua menjadi mitra ide sekaligus eksekutor karya. Mereka berdiskusi tanpa jarak, bertukar pikiran tentang warna, tata letak, hingga filosofi yang ingin ditanamkan. Hasilnya bukanlah ruang kelas yang seragam, melainkan ruang yang berkarakter, hidup, dan representatif—sesuai dengan dunia anak-anak yang penuh energi dan rasa ingin tahu. Setelah melalui serangkaian musyawarah kreatif antara saya wali kelas 2A dan komite orang tua, muncullah sebuah tema unik: Craft and Hero Islamic. Mengapa tema ini yang terpilih? Tema ini lahir dari kebutuhan ganda: estetika dan penanaman nilai. Dari sisi estetika, tema “craft” mengusung nuansa handmade yang hangat dan artistik. Hiasan dinding dari bahan kayu, mading yang bernuasa kerajinan tangan, hingga pojok baca dengan ornamen kayu dan makrame. Semua dibuat dengan sentuhan tangan sehingga menghadirkan rasa otentik dan nyaman. Nuansa “craft” ini memberikan kesan bahwa kelas adalah ruang yang diciptakan dengan penuh cinta, bukan produk pabrik yang dingin. Sementara itu, “Hero Islamic” adalah elemen substansial yang mengisi ruang dengan kebermaknaan. Di setiap sudut, siswa disambut oleh wajah-wajah ramah para tokoh Islam yang menginspirasi: dari sosok ilmuwan seperti Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi, hingga pahlawan peradaban seperti Sultan Saladin dan Fatima Al-Fihri. Setiap gambar dilengkapi dengan narasi singkat dan kata-kata motivasi. Tujuannya sederhana namun mendalam: menanamkan sejak dini bahwa pahlawan bagi mereka bukan hanya tokoh fiksi super hero, tetapi juga ilmuwan muslim yang mengubah dunia dengan akhlak dan kecerdasan. Kolaborasi ini membawa angin segar bagi hubungan sekolah dan keluarga. Para orang tua tidak lagi menjadi penonton pasif yang hanya menerima laporan rapor. Mereka menjadi bagian dari proses kreatif. Sang ayah yang berprofesi sebagai pengrajin kayu membantu membuat rak buku unik serta pajangan dinding portofolio. Sang ibu yang memiliki hobi mendesign tata ruang turut menyumbangkan di sudut kelas hingga tampak rapi dan bersih. Ada pula orang tua yang menjadi relawan membuat hiasan dinding lain dengan bentuk unik tentunya dengan bahasa yang ramah anak. Kelas impian kami di SD Muhammadiyah 4 Batu bukanlah sekadar ruang dengan tema “Craft and Hero Islamic”, akan tetapi lahir sebuah ekosistem belajar yang hangat, bermakna, dan membahagiakan. Ia adalah bukti bahwa ruang kelas yang representatif bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar bagi tumbuhnya generasi yang cerdas, bertanggung jawab, dan bangga pada identitas keislamannya, hal ini tentunya mewujudkan ruang kelas mereka menjadi seperti rumah belajar yang selalu dirindukan. Dampak dari perubahan ini langsung terlihat pada hari pertama. Anak-anak yang biasanya masuk kelas dengan lesu, tapi kali ini mereka dengan semangat berlari kecil memasuki ruangan. Mereka terpukau pada setiap detail yang ada: "Bu, ini gambar Ibnu Sina, yang menemukan cara kerja obat, ya?" tanya seorang siswa kelas 2A dengan antusias. "Lihat, bu, rak bukunya bentuk pesawat!" seru yang lain. Perubahan yang terjadi di SD Muhammadiyah 4 Batu bukan sekadar transformasi visual ruang kelas, tetapi transformasi budaya belajar. Kelas yang sebelumnya hanya menjadi ruang transfer materi perlahan berubah menjadi ruang tumbuh yang memberi rasa memiliki, keterlibatan, dan tanggung jawab bagi siswa. Tidak butuh waktu lama bagi guru untuk merasakan perubahan signifikan. Semangat belajar meningkat drastis. Kehadiran meningkat, partisipasi dalam diskusi kelas menjadi lebih hidup, dan yang paling mengejutkan, anak-anak mulai rajin membersihkan kelas tanpa diminta. Rasa ingin menjelajahi sudut-sudut kelas telah bermetamorfosis menjadi rasa memiliki yang dalam. Mereka merasa kelas ini adalah milik mereka karena mereka dilibatkan dalam prosesnya terutama orangtua mereka sendiri yang mendesignnya. Salah satu bentuk nyata dari tanggung jawab itu adalah lahirnya regu kebersihan Hero” yang diinisiasi oleh siswa sendiri. Setiap pulang sekolah, mereka bergiliran merapikan hiasan dinding, menata ulang pojok hero Islami, dan memastikan semua properti kreatif tetap rapi. Ini bukti bahwa ketika anak dihargai pendapatnya dan diberikan ruang yang representatif, mereka akan menjaga ruang itu dengan sepenuh hati. Program ini telah berjalan ke kelas-kelas lain, harapannya sederhana kisah dari Sekolah Dasar di Kota Batu ini menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia bahwa berdampingan menciptakan kelas impian menjadi rumah belajar untuk anak bukanlah mimpi terlalu tinggi. Tentunya dengan proses kolaborasi orang tua, keterlibatan masyarakat sekitar, komunikasi yang baik, pengetahuan, dan cinta, semua bisa diwujudkan. Memulai memanglah mudah tetapi menjaga agar semua peran bisa aktif mendukung terciptanya pendidikan yang berkualitas dan mampu dirasakan oleh siswa merupakan tanggungjawab bersama. Penulis : Denok Olivia H.N, S.Pd.,Gr. (SD Muhammadiyah 4 Batu) Subtema : Pelibatan publik dalam pendidikan
 Lihat Semua Artikel  Bagikan WA

Tinggalkan Komentar

Komentar (0)

Jadilah yang pertama berkomentar! 🥳