Kembali ke Galeri Cerita SD Muh 4 Batu

“Di Bawah Langit Subuh, Kami Menyalakan Pendidikan”

19 May 2026 Dilihat: 659 kali
“Di Bawah Langit Subuh, Kami Menyalakan Pendidikan”
Langit Kota Batu masih gelap ketika satu per satu anak datang ke masjid Attaqwa, sebuah masjid yang dekat sekolah kami. Mereka datang dengan seragam lengkap dan tas yang berisi alat sholat dan pelajaran mereka di hari itu. Ada yang datang sambil menggandeng ayahnya. Ada pula yang berboncengan dengan ibunya menggunakan jaket tebal melawan dingin udara pagi. Di dalam masjid, Bapak Ibu guru menyambut kedatangan anak-anak. Tidak ada seragam resmi. Tidak ada absen yang kaku. Hanya sapaan hangat, senyum, dan terdengar suara kecil anak-anak yang satu persatu mulai memenuhi shaf Subuh Jumat itu. Mereka akan meletakkan tas mereka dengan rapi di sudut masjid dan menata barisan shaf sholat dengan rapi dan tertib. Inilah aktifitas di Jumat subuh sekolah kami, SD Muhammadiyah 4 Batu. Sebuah sekolah yang berada tak jauh dari jantung Kota Batu Provinsi Jawa Timur. Di kota kecil nan asri dan dingin yang dijuluki dengan “Switzerland van Java”. Program ini kami beri nama “Pejuang Subuh”. Awalnya sederhana, kami hanya ingin menghadirkan pembiasaan baik bagi murid-murid kami. Di tengah kehidupan anak-anak yang semakin dekat dengan gawai dan tidur larut malam, dan keluhan orang tua yang kesulitan membangunkan putra putri mereka di agi hari, kami merasa perlu menghadirkan ruang pendidikan yang lebih menenangkan jiwa mereka. Kami ingin anak-anak belajar bahwa pagi bukan dimulai dari terburu-buru berangkat sekolah, tetapi dimulai dengan doa, kebersamaan, dan kedisiplinan. Saya percaya pendidikan karakter akan tumbuh dari langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus. Maka setiap Jumat pagi, kami mengajak anak-anak salat Subuh berjamaah bersama guru dan orang tua di masjid dekat sekolah kami. Kami tidak tahu apakah program ini akan bertahan lama atau tidak. Sebab mengajak anak bangun sebelum matahari terbit bukan perkara mudah. Bahkan bagi orang dewasa pun, Subuh sering menjadi perjuangan untuk melawan rasa kantuk untuk beranjak bangun pagi. Namun ternyata antusiasme orang tua dan anak-anak terhadap program ini sangat tinggi. Anak-anak justru tampak bersemangat setiap Jumat pagi. Mereka saling menyapa, duduk bersama setelah salat, dzikir bersama, mendengarkan tausiyah ringan dari guru. Masjid yang biasanya sunyi diisi langkah anak-anak, kini dipenuhi suara kecil yang menghidupkan Subuh. Dan justru dari sanalah pendidikan itu sesungguhnya mulai tumbuh. Yang membuat saya terharu dan salut, program ini ternyata tidak berhenti di sekolah. Tanpa diminta, atas inisiatif orang tua, beberapa orang tua mulai tergerak membawa makanan sederhana untuk anak-anak setelah salat Subuh. Awalnya mereka menyediakan untuk putra putri dan teman sekelas anak-anak mereka, tapi seiring berjalannya waktu, saat ini terbentuknya paguyuban pejuang subuh yang terdiri dari beberapa walimurid yang menyediakan sarapan pagi untuk semua anak-anak pejuang subuh. Mereka menggalang donasi sukarela dari walimurid atau bahkan ada jamaah masjid yang juga menjadi donatur sebagai bentuk dukungan terhadap program ini. Sejak saat itu, sarapan pagi setelah Subuh menjadi bagian yang paling ditunggu anak-anak. Mereka duduk melingkar di halaman masjid sambil makan bersama teman-teman mereka. Orang tua dan guru saling membantu menata makanan untuk anak-anak. Tidak ada sekat antara guru, orang tua, dan murid. Semua bercampur dalam suasana sederhana yang hangat. Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya kegiatan biasa. Namun bagi kami, inilah wajah pendidikan yang sesungguhnya. Pendidikan yang tidak hanya mengejar nilai angka, tetapi juga menghadirkan pengalaman hidup yang membentuk hati anak-anak. Saya melihat anak-anak dengan tertib berbaris antri untuk mendapatkan menu sarapan pagi, dan juga meletakkan piring dan gelas kotor mereka dengan secara terpisah untuk memudahkan ibu pencuci piring membersihkan piring dan gelas kotor mereka. Saya juga pernah melihat seorang murid mengambilkan air minum untuk temannya tanpa diminta. Ada pula anak yang membantu membagikan sarapan sebelum ia mengambil untuk dirinya sendiri. Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak pernah tertulis di rapor akademik, tetapi justru menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter. Program Pejuang Subuh juga mengajarkan kami bahwa keteladanan jauh lebih kuat daripada nasihat panjang. Ketika guru ikut hadir sejak pagi, anak-anak belajar tentang komitmen. Ketika orang tua rela mengantar anak ke masjid sebelum matahari terbit, anak-anak belajar tentang pengorbanan. Ketika orang tua ikut meluangkan waktu menyediakan sarapan, anak-anak belajar tentang kepedulian sosial. Semua nilai itu hadir bukan melalui ceramah, tetapi melalui pengalaman nyata. Sebagaimana ajaran Ki Hadjar Dewantara, pendidikan sejati hadir melalui keteladanan dan pembiasaan hidup yang dilakukan bersama anak-anak. Karakter tidak dibangun dalam satu hari. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus dengan keteladanan hingga akhirnya menjadi bagian dari diri mereka. Dan setiap Jumat pagi, kami menyaksikan proses itu tumbuh perlahan di shaf-shaf Subuh anak-anak kami. Di tengah dinginnya udara Subuh Kota Batu, kami percaya bahwa cahaya pendidikan karakter justru sedang dinyalakan. Penulis : Nur Ita Rahmawati,S.H.,M.Pd
 Lihat Semua Artikel  Bagikan WA

Tinggalkan Komentar

Komentar (0)

Jadilah yang pertama berkomentar! 🥳